Manfaat Pengembangan Buku Panduan Membaca Artikulasi Huruf Hijaiyyah Anak Tunarungu

Judul : Pengembangan buku panduan pembelajaran artikulasi huruf Hijaiyah anak tunarungu.

  1. Apa manfaat dari pembelajaran artikulasi huruf Hijaiyah pada anak tunarungu?
  2. Bagi Sekolah
  3. Sebagai bahan informasi bagi sekolah dalam memilih buku panduan pembelajaran yang baik untuk meningkatkan kemampuan artikulasi huruf hijaiyah anak tunarungu.
  4. Sebagai motivasi bagi sekolah untuk meningkatkan ketrampilan dalam memilih strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik anak sehingga dapat memperbaiki sistem pembelajaran di sekolah dan memberikan layanan yang optimal bagi peserta didiknya.
  5. Bagi Guru
  6. Dapat menambah pengetahuan bagi guru khususnya mengenai buku panduan pembelajaran artikulasi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan membaca huruf hijaiyah anak tunarungu
  7. Dapat memberikan alternatif pemilihan media serta cara penggunaanya sesuai dengan kondisi peserta didik.
  8. Bagi Siswa

Dengan penelitian ini diharapkan siswa mendapat pelayanan pendidikan yang efektif, aktif dan menyenangkan sesuai dengan konsep PAIKEM.

  • Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti yaitu memperoleh pengetahuan tentang cara meningkatan kemampuan membaca artikulasi huruf hijaiyah anak tunarungu melalui buku panduan dalam pembelajaran serta mendapat pengalaman secara langsung dalam pelaksanaan pembelajaran.

  • Bagi Peneliti lain

Sebagai bahan informasi untuk para peneliti berikutnya yang ingin mengkaji tentang buku panduan sebagai pembelajaran membaca artikulasi huruf hijaiyah anak tunarungu.

  • Kemampuan/ketrampilan apa dari Anak Tunarungu mau ditingkatkan dari pembelajaran ini? Bagaimana cara pengukurannya?

Anak tunarungu sama seperti warga negara lainnya juga berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Anak tunarungu juga berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dengan belajar untuk mendapatkan pengetahuan dalam  kehidupannya sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing dalam hal ilmu pengetahuan maupun ilmu agamanya. Anwar dkk (2017: 682) berpendapat “Anak tunarungu pada umumnya memiliki karakteristik secara fisik seperti anak normal. Kemampuan intelegensi anak tunarungu sama seperti anak normal, Namun karena keterbatasan informasi yang diterima melalui indera pendengaran menyebabkan perkembangan intelegensinya terhambat”. Keterbatasan pendengaran yang dialami anak tunarungu mengakibatkan kemampuan bicaranya kurang baik. Kata yang diucapkan tidak jelas terutama huruf hijaiyah yang jarang diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, anak tunarungu yang beragama islam membutuhkan pengajaran mengenai huruf hijaiyah. Karena membaca huruf hijaiyah merupakan titik awal dari membaca Al-Qur’an yang dianjurkan bagi umat muslim.

Sampai saat ini belum ada implementasi-implementasi pembelajaran pendidikan agama Islam di SLB-SLB tersebut. Termasuk pengajaran tahsin dalam mengenalkan huruf hijaiyah kepada anak tunarungu. Menurut Diana (2018:1) Tahsin berarti memperbaiki, meningkatkan, atau memperkaya bacaan Al-Quran. Dalam islam mengandung makna, bahwa tuntutan agar dalam membaca Al-Quran harus benar dan tepat sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW. Selama ini tidak ada buku atau referensi panduan khusus untuk mengajarkan tahsin untuk anak tunarungu. Gambaran di atas sesuai dengan pernyataan Rahim (2001: 98-99) di bawah ini :

Di Indonesia belum memiliki data tentang Implementasi Pendidikan agama Islam di SLB–SLB tersebut. Hal ini disebabkan belum tersedianya guru pendidikan agama Islam yang memiliki ketrampilan khusus yang siap diterjunkan ke sekolah–sekolah luar biasa, kecuali yang pernah dilakukan oleh Departemen Agama dengan membuka PGA-LB untuk tunanetra yang ditutup tahun 1976, sulitnya mengangkat guru Pendidikan agama Islam  untuk diterjunkan ke sekolah–sekolah luar biasa, dan belum tersedianya buku-buku teks atau pedoman Pendidikan agama Islam  khusus yang diberlakukan bagi sekolah–sekolah luar biasa.

Pernyataan tersebut menggambarkan belum tersedianya tenaga pengajar pendidikan agama islam untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki ketrampilan khusus yang siap ditempatkan untuk mengajar di sekolah – sekolah luar biasa seperti SLB A (tunanetra), SLB B (tunarungu), SLB C (tunagrahita), SLB D (tunadaksa), SLB E (tunalaras) dan SLB-G (tunaganda).

Adapun cara pengukuran kemampuan artikulasi membaca membaca huruf hijaiyyah anak tunarungu menggunakan tes baik lisan maupun tes tulis untuk dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki atau yang seharusnya dimiliki oleh anak tunarungu. Sehingga diharapkan peneliti dapat membuat buku panduan membaca artikulasi huruf hijaiyyah yang baik untuk anak tunarungu.

Sumber :

Diana U (2018). Belajar Tahsin di LTQ Al-Hikmah. https://onlybona.com/2018/01/09/belajar-tahsin-di-ltq-al-hikmah/. Diakses pada 20 Mei 2018

Rahim H, (2001). Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: logos), Hal. 98-99.

Handayani, Endang Sri, Priyono, Anwar Mohammad. Peningkatan Pemahaman Dongeng Anak Tunarungu Melalui Simulation Based Learning. Indonesian Journal of Disability Studies (IJDS). 2017: Vol. 4(1): PP 9 – 15.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *