Pengertian Tunanetra

Di Indonesia istilah tunanetra lebih dikenal dengan sebutan buta karena merujuk pada arti kata blind (buta total). Pengetahuan tentang definisi tunanetra sangat diperlukan oleh seorang pendidik untuk mengembangkan program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Batasan secara legal telah banyak dipergunakan dalam mendefinisikan ketunanetraan. Dalam pendefinisian ini biasanya digunakan Kartu Snellen, yang biasanya dipergunakan dalam pemeriksaan klinis tentang ketajaman penglihatan dalam suatu kondisi tertentu. Selain batasan legal, ada juga batasan batasan lainnya yang disesuaikan dengan tujuannya.

Sebelum kita membahas tunanetra, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu Legally Blind. Legally blind memiliki arti kata langsung dalam bahasa Indonesia yakni buta secara hukum. Seseorang dapat dikatakan legally blind karena melibatkan proses pengukuran ketajaman pengelihatan visual seseorang dalam ukuran tertentu yang jelas dan pasti. Pengukuran ketajaman penglihatan dilakukan dengan mempergunakan international chart yang disebut Eyesight-Test. Legally blind diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu blind (buta total) dan low vision (Hallahan, Kaufman, dan Pullen, 2009).

Seseorang dikatakan buta secara legal apabila  ketajaman penglihatannya 20/200 atau kurang pada mata yang terbaik setelah dikoreksi, atau lantang pandangnya tidak lebih besar dari 20 derajat. Dalam definisi ini, 20 feet adalah jarak dimana ketajaman penglihatan diukur. Sedangkan 200 dalam definisi ini menunjukkan jarak dimana orang dengan mata normal dapat membaca huruf yang terbesar pada kartu snellen. Bagian yang kedua dari definisi tersebut berhubungan dengan adanya keterbatasan pada lantang pandang, merupakan kemampuan seseorang untuk melihat objek ke arah samping. Batasan legal ini dipertimbangkan penggunaannya dalam pendidikan, tetapi kalau tidak dengan pertimbangan yang lain, maka hasil pengukuran tersebut hanya memberikan kontribusi yang kecil dalam perencanaan program pendidikan bagi anak-anak tunanetra. 

Berikut pengertian tunanetra menurut beberapa ahli :

  • Menurut Daniel P. Hallahan, James M. Kauffman, dan Paige C. Pullen (2009: 380), mengemukakan “Legally blind is a person who has visual acuity of 20/200 or less in the better eye even with correction (e.g., eyeglasses) or has a field of vision so narrow that its widest diameter subtends an angular distance no greater than 20 degrees”. Definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa anak buta adalah seseorang yang memiliki ketajaman visual 20/200 atau kurang pada mata/penglihatan yang lebih baik setelah dilakukan koreksi (misalnya kacamata) atau memiliki bidang penglihatan begitu sempit dengan diameter terlebar memiliki jarak sudut pandang tidak lebih dari 20 derajat.
  • Barraga, 1983 (dalam Wardani dkk, 2007: 4.5) bahwa: Anak yang mengalami ketidakmampuan melihat adalah anak yang mempunyai gangguan atau kerusakan dalam penglihatannya sehingga menghambat prestasi belajar secara optimal, kecuali jika dilakukan penyesuaian dalam pendekatan-pendekatan penyajian pengalaman belajar, sifat-sifat bahan yang digunakan, dan/atau lingkungan belajar.
  • Barraga dalam (Purwaka, 2005: 38) menguraikan bahwa orang dengan hambatan penglihatan adalah seseorang yang mengalami cacat penglihatan sehingga menggangu dalam belajar dan pencapaian belajar secara optimal sehingga diperlukan berbagai penyesuaian dalam proses pembelajarannya.
  • Nakata (2003) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan tunanetra adalah mereka yang mempunyai kombinasi ketajaman penglihatan hampir kurang dari 0.3 (60/200) atau mereka yang mempunyai tingkat kelainan fungsi penglihatan yang lainnya lebih tinggi, yaitu mereka yang tidak mungkin atau berkesulitan secara signifikan untuk membaca tulisan atau ilustrasi awas meskipun dengan mempergunakan alat bantu kaca pembesar. Pengukuran ketajaman penglihatan dilakukan dengan mempergunakan international chart yang disebut Eyesight-Test.
  • T. Sutjihati Somantri, (2006: 65) mengungkapkan tunanetra  merupakan  individu  yang  indra penglihatannya  (kedua-duanya) tidak  berfungsi  sebagai  saluran  penerima  informasi  dalam  kegiatan sehari-hari seperti orang awas
  • Sari Rudiyati (2002: 25) menjelaskan anak tunanetra adalah anak yang karena dampak sesuatu hal dria penglihatan mengalami luka atau kerusakan, baik struktural ataupun fungsional, sehingga kondisi penglihatannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
  • Ardhi (2013:  21), menyatakan bahwa seseorang dikatakan tunanetra bila dalam pembelajaran ia memerlukan atau membutuhkan alat alat maupun metode khusus atau dengan teknik- teknik tertentu sehingga dapat belajar tanpa penglihatan atau penglihatan terbatas.
  • Hardman dalam Anastasia Widdjajanti & Imanuel Hitipiew (2007: 5), menjelaskan tunanetra adalah   seorang anak   yang   tidak   dapat   menggunakan   penglihatannya   oleh sebab itu ia bergantung pada indera lainnya seperti pendengaran ataupun perabaan.
  • Munawir Yusuf, (1996: 21), Istilah tunanetra / buta, menggambarkan kondisi dimana penglihatan tidak dapat diandalkan lagi meskipun dengan alat bantu sehingga tergantung pada fungsi indra-indra yang lain. Dampak penglihatan kurang sehingga mempunyai kesulitan dengan tugas-tugas utama yang menuntut fungsi penglihatan tetapi dapat berfungsi  dengan  alat  bantu  khusus  namun  tetap  terbatas.
  • Istilah tunanetra dalam KBBI edisi kelima (2016) memiliki arti tidak dapat melihat atau buta. Istilah tunanetra dalam UU RI Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas termasuk ke dalam penyandang disabilitas sensorik. Penyandang disabilitas sensorik adalah orang yang mengalami gangguan pada fungsi panca indera. Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) mendefinisikan tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata. Jadi, berdasarkan penjelasan sebelumnya tunanetra adalah ketidakmampuan sesorang untuk melihat, baik secara total maupun sebagian dengan alat bantu pengelihatan.

Pendapat di atas memberikan kita pemahaman bahwa perlu adanya penyesuaian terhadap seseorang yang mengalami keterbatasan melihat atau anak tunanetra yang memiliki kekhasan dan cara tersendiri untuk mencapai tahapan yang sama dalam perkembangannya. Berdasarkan definisi tersebut dapat ditegaskan bahwa anak tunanetra merupakan anak yang mengalami keterbatasan penglihatan secara keseluruhan (the blind) atau secara sebagian (low vision) yang menghambat dalam memperoleh informasi secara visual sehingga dapat mempengaruhi proses pembelajaran dan prestasi belajar.

Seseorang dikatakan buta apabila mempergunakan kemampuan perabaan dan pendengaran sebagai saluran utama dalam belajar. Mereka mungkin mempunyai sedikit persepsi cahaya atau persepsi bentuk atau sama sekali tidak dapat melihat (buta total). Seseorang dikatakan buta secara fungsional apabila saluran utama yang dipergunakanya dalam belajar adalah perabaan atau pendengaran. Mereka dapat mempergunakan sedikit sisa penglihatannya untuk memperoleh informasi tambahan dari lingkungan. Orang seperti ini biasanya mempergunakan huruf Braille sebagai media membaca dan memerlukan latihan orientasi dan mobilitas. Seseorang dikatakan menyandang low vision atau kurang lihat apabila ketunanetraannya masih memungkinkannya memfungsikan indera penglihatannya dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Saluran utama yang dipergunakanya dalam belajar adalah penglihatan dengan mempergunakan alat bantu, baik yang direkomendasikan oleh dokter maupun bukan. Jenis huruf yang dipergunakan sangat bervariasi tergantung pada sisa penglihatan dan alat bantu yang dipergunakannya. Latihan orientasi dan mobilitas diperlukan oleh siswa low vision untuk mempergunakan sisa penglihatannya.

Sumber :

Anastasia Widdjajanti & Imanuel Hitipiew. (2007). Ortopedagogik Tunanetra I.Jakarta: Departemen  Pendidikan dan  Kebudayaan  Direktorat  Jenderal Pendidikan Tinggi.

Ardhi Widjaya. (2013). Seluk Beluk ATN. Yogyakarta: Java Litera.

Daniel P. Hallahan, James M. Kauffman & Paige C. Pullen. (2009). Exceptional Learner An Introduction to Special Education. United States of America: PEARSON

Munawir Yusuf. (1996). Pendidikan Tunanetra Dewasa dan Pembinaan Karir. Jakarta:  Departemen   Pendidikan dan   Kebudayaan.   Direktorat   Jendral Pendidikan Tinggi. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

Nakata, H. (2003). Educational Cooperation Bases System Construction Project,Implementation Report, Center for Research on International Cooperation in Educational Development (CRICED), University of Tsukuba, Japan.

Purwaka Hadi. (2005). Kemandirian Tunanetra Orientasi Akademik dan Orientasi Sosial. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Sari Rudiyati. (2002). Pendidikan ATN. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Somantri, T, S. (2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Tim Penyusun. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 5. Kota:Penerbit.

Wardani, dkk. (2007). Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta : Universitas Terbuka