Produk

CONTOH LAPORAN KRITIS

MAGANG KEPENDIDIKAN 3 DI SLB B YRTRW SURAKARTA

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb

Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT, atas segala karunia-Nya sehingga penyusunan Laporan Kritis Magang 3 (Magang Kependidikan) ini dapat terlaksana dengan baik. Laporan kritis Magang 3 ini disusun untuk memenuhi tugas akhir Magang Kependidikan 3 UNS di SLB B YRTRW Surakarta. Dan sekaligus dijadikan sebagai bahan evaluasi kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah.

Dengan tersusunnya laporan kritis ini, maka kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, maupun masukan/usulan, baik yang berkaitan langsung dengan laporan kritis ini maupun yang terkait dengan penyelenggaraan Kegiatan Pengalaman Lapangan. Untuk itu kami ucapkan terimakasih kepada :

  1. Orang tua Ayahanda Isrochmat dan Ibunda Warisah serta keluarga yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materil
  2. Ketua UP2KT beserta jajarannya yang telah menyelenggarakan program Magang Kependidikan 3
  3. Dosen Pembimbing Bapak Priyono, S.Pd, M.Si dan Ibu Mahardika Supratiwi, S.Psi, MA yang telah membimbing kami selama Magang Kependidikan 3 di SLB B YRTRW
  4. Bapak Kepala Sekolah beserta Bapak dan Ibu Guru SLB B YRTRW Surakarta yang telah memberikan ilmu, pengalaman, serta bimbingannya kepada kami
  5. Serta tidak lupa teman teman dari PLB 2014 yang selalu mendukung dan memberikan semangat dan doa nya kepada penulis dari awal hingga akhir selesai nya Magang Kependidikan 3 di SLB B YRTRW Surakarta.

Kami menyadari laporan kritis ini masih banyak kekurangan, untuk itu kami mengharap adanya  saran dan kritik yang menbangun dari pembaca yang budiman demi perbaikan. Semoga laporan kritis ini dapat bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr Wb

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Guru merupakan jabatan profesional yang memberikan layanan ahli dan menuntut kemampuan akademik dan pedagogik yang memadai. Guru sebagai jabatan profesional harus disiapkan melalui program pendidikan yang relatif lama dan dirancang berdasarkan standar kompetensi guru. Oleh karena itu diperlukan waktu dan keahlian untuk membekali para lulusannya dengan berbagai kompetensi, dari penguasaan bidang studi, landasan keilmuan kegiatan mendidik, sampai strategi menerapkannya secara profesional di lapangan.

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, mewajibkan guru memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik. Pada Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 ditegaskan bahwa sertifikat pendidik bagi guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun masyarakat. Pendidikan tersebut dilaksanakan setelah jenjang program S1 (Sarjana).

Pasal 1 ayat (1) PP No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Sejalan dengan pernyataan itu, seorang guru harus memiliki kompetensi yang diharapkan yaitu dapat melaksanakan peran, tugas, dan fungsinya sebagai guru profesional, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Kompetensi ini disiapkan melalui pendidikan akademik dan pendidikan profesi.

Menurut Suparlan (2008: 146), guru merupakan salah satu unsur masukan instrumental yang amat menentukan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan. Untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, guru harus memiliki standar kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan yang memadai.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Sehingga dengan persiapan dan keahlian yang telah dibekali tersebut, diharapkan guru akan menerapkan strategi secara professional dilapangan guna terwujudnya pembelajaran yang sesuai untuk dilakukan.

Dalam pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator bagi peserta didik untuk dapat belajar dengan baik sehingga mencapai tujuan tertentu yaitu menambah dan memahami ilmu pengetahuan (kognitif), memperbaiki sikap (afektif) dan mengasah serta mengarahkan keterampilan yang dimiliki (psikomotorik). Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi peserta didik, pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan peserta didik yang saling bertukar informasi sehingga akan mencapai tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran menjadi acuan untuk menentukan jenis materi pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Tanpa tujuan yang jelas, pembelajaran akan menjadi kegiatan tanpa arah, tanpa fokus, dan menjadi tidak efektif. Sehingga muncul yang namanya permasalahan dalam proses pembelajaran. Dalam mencapai tujuan pembelajaran guru menghadapi berbagai rintangan, Salah satu rintangan yang dihadapi oleh guru adalah konsentrasi anak saat kegiatan belajar mengajar. Hal ini dikarenakan kurang menarik nya media pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan rincian latar belakang diatas penulis mengangkat laporan kritis permasalahan pembelajaran dengan judul Analisis Permasalahan Pembelajaran dan Problem Solving pada Kurangnya Konsentrasi Belajar Anak saat Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas TK P2 SLB B YRTRW Surakarta”.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas, rumusan masalah dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Apa permasalahan yang terdapat dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas TK P2 SLB B YRTRW Surakarta?
  2. Mengapa permasalahan kurangnya konsentrasi peserta didik di kelas TK P2 SLB B Surakarta bisa terjadi?
  3. Bagaimana upaya pemecahan masalah konsentrasi belajar peserta didik yang terdapat pada kelas TK P2 SLB B Surakarta ?
  • Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penulisan laporan kritis yang ingin dicapai adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui permasalahan yang terdapat dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas TK P2 SLB B YRTRW Surakarta?
  2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya permasalahan kurangnya konsentrasi peserta didik di kelas TK P2 SLB B Surakarta bisa terjadi?
    1. Untuk memberikan upaya pemecahan masalah konsentrasi belajar peserta didik yang terdapat pada kelas TK P2 SLB B Surakarta ?

BAB II

PERMASALAHAN DAN UPAYA PEMECAHANNYA

  1. PERMASALAHAN
  2. Konsentrasi Belajar Peserta didik

Hendrata (2007) berpendapat konsentrasi adalah sumber kekuatan pikiran dan bekerja berdasarkan daya ingat dan lupa dimana pikiran tidak dapat bekerja untuk lupa dan ingat dalam waktu bersamaan. Apabila konsentrasi seseorang mulai lemah maka akan cenderung mudah melupakan suatu hal dan sebaliknya apabila konsentrasi masih cukup kuat maka akan dapat mengingat dalam waktu yang lama.

Djamarah (2008) mengungkapkan bahwa konsentrasi adalah pemusatan fungsi jiwa terhadap suatu objek seperti konsentrasi pikiran, perhatian dan sebagainya.Dalam belajar dibutuhkan konsentrasi dalam bentuk perhatian yang terpusat pada suatu pelajaran. Maka dari itu konsentrasi merupakan salah satu aspek yang mendukung siswa untuk mencapai prestasi yang baik dan apabila konsentrasi ini berkurang maka dalam mengikuti pelajaran di kelas maupun belajar secara pribadi akan terganggu.

Berdasarkan beberapa pengertian konsentrasi belajar diatas dapat
disimpulkan bahwa konsentrasi belajar adalah pemusatan fungsi jiwa dan
pemikiran seseorang terhadap objek yang berkaitan dengan belajar (penerimaan informasi tentang pelajaran) dimana konsentrasi belajar ini sangat penting dalam proses pembelajaran karena merupakan usaha dasar untuk dapat mencapai prestasi belajar yang lebih baik.

Menurut Slameto (2010) seseorang sering mengalami kesulitan
berkonsentrasi, yang disebabkan karena: kurang berminat terhadap mata
pelajaran yang dipelajari, terganggu oleh keadaan lingkungan (bising, keadaan yang semrawut dan lain-lain), pikiran kacau/masalah-masalah kesehatan yang terganggu (badan lemah), bosan terhadap pelajaran/sekolah dan lain-lain.

Pada saat kegiatan belajar mengajar yang pernah saya observasi di kelas TK P2 ada beberapa siswa yang tidak dapat konsentrasi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal itu disebabkan karena media pembelajaran dan metode pembelajaran yang kurang tepat. Sehingga menyebabkan beberapa siswa bermain sendiri.

  • UPAYA PEMECAHAN MASALAH
  • Konsentrasi Belajar Peserta didik

Untuk mengatasi permasalahan kurangnya konsentrasi belajar siswa dalam pembelajaran ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh guru yaitu :

  1. Mengatur bahan dan materi pelajaran yang akan disajikan sedemikian rupa sehingga dapat mengundang perhatian siswa.
  2. Menyajikan bahan dan materi pelajaran dengan metode yang disukai oleh siswa karena memang proses belajar untuk siswa.
  3. Menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman, fakta dan kenyataan hidup siswa sehari-hari.
  4. Menyajikan materi pelajaran sesuai dengan taraf berfikir dan pengalaman siswa dengan menggunakan benda konkret.
  5. Menyampaikan materi pelajaran dengan gaya bahasa dan vokal yang menarik.
  6. Menampilkan ekspresi dan sikap optimis, ceria dan bersemangat serta diselingi humor segar. (bernyanyi dan menari)
  7. Menampilkan media pembelajaran yang menarik perhatian siswa.

       Pemilihan strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang tepat merupakan faktor yang mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Selain itu peningkatan mutu peserta didik juga dapat dilakukan dengan pemilihan strategi pembelajaran yang tepat. Salah satu hal yang penting dalam pemilihan strategi pembelajaran adalah pemilihan media yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan juga disesuaikan dengan standar isi dan kompetensi pada kurikulum 2013.

       Media pembelajaran merupakan suatu teknologi pembawa pesan yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran; media pembelajaran merupakan sarana fisik untuk menyampaikan materi pelajaran.Media pembelajaran merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar termasuk teknologi perangkat keras. (Rusman, 2013 : 160).

       Dalam pembelajaran media berperan sebagai penunjang proses pembelajaran. dimana media yang digunakan dalam pembelajaran memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan materi pelajaran. Selain menjadikan penyajian yang lebih konkrit media juga memiliki kegunaan yang lain, yaitu pembelajaran menggunakan media membantu siswa dalam memperoleh pengalaman yang lebih luas dan lebih lengkap. Dengan keluasan materi dan juga informasi yang didapatkan menimbulkan minat belajar peserta didik menjadi meningkat. Meningkatnya minat belajar siswa tentu juga akan mempengaruhi perosese belajar mengajar serta hasil dari proses tersebut.

       Penggunaan media dalam pembelajaran sangat membantu peserta didik dalam memahami materi pelajaran yang sedang diajarkan. Media yang digunakan disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Penggunaan media pembelajaran ini tidak hanya memudahkan peserta didik dalam belajar tetapi juga memudahkan guru /pendidik dalam menyampaikan materi materi kepada peserta didik.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

     Permasalahan menjadi hal yang sangat lumrah dalam proses pembelajaran. Permasalahan juga menyebabkan menjadi tidak efektifnya kegiatan atau proses pembelajaran, terkhusus di SLB B YRTRW Surakarta

     Permasalahan yang ada diantaranya adalah pendidik dalam melaksanakan RPP yang telah dibuat. Pada pelaksanaanya, RPP atau rencana pelaksanaan pembelajaran itu tidak akan pernah lepas dari permasalahan atau ketidaksesuaian dalam proses pembelajaran, baik itu karena faktor lingkungan maupun faktor fasilitas sekolah yang kurang mendukung dalam berjalannya RPP yang telah dibuat. Sehingga perlu adanya keselarasan mengenai RPP yang dibuat dengan kebutuhan tiap-tiap kelas dengan memperhatikan berbagai aspek, salah satunya aspek alat pembelajaran.

     Faktor selanjutnya adalah faktor konsentrasi anak saat kegiatan belajar mengajar. Ketepatan memilih dan memvariasi media dan metode pembelajaran perlu dilakukan. Variasi metode pembelajaran tersebut perlu dilakukan agar permasalahan pembelajaran itu menjadi berkurang. Menggunakan variasi media dan metode pembelajaran yang menarik tersebut diharapkan agar meminimalisir tingkat kejenuhan dari peserta didik. Pemilihan alat dan penggunaan media yang tepat juga menjadi factor dari upaya penyelesaian permasalahan (problem solving) yang ada.

     Selain itu, ketepatan materi atau bahan ajar beserta media pembelajarannya juga sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Pada kenyataanya setiap bahan ajar yang diajarkan tersebut akan menimbulkan dampak yang besar pada respon peserta didik. Sehingga penggunaan bahan ajar, materi pembelajaran dan media pembelajaran yang tepat itulah yang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi penerimaan pemahaman pada setiap peserta didik.

  • Saran

     Pemilihan strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang tepat merupakan faktor yang mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Selain itu peningkatan mutu peserta didik juga dapat dilakukan dengan pemilihan strategi pembelajaran yang tepat. Salah satu hal yang penting dalam pemilhan strategi pembelajaran adalah pemilihan media yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan juga disesuaikan dengan standar isi dan kompetensi pada kurikulum 2013. Terkhusus untuk anak P2 yang notabene masih anak – anak TK. Untuk mengenalkan konsep suatu benda harus menggunakan benda secara konkret dan dengan gambar yang baik. Sehingga anak akan lebih mudah memahami nya.

BAHAN RUJUKAN

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

Prastowo, Andi. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.

Yogyakarta : Diva Press

PP NO. 74/2008 pasal 1 ayat (1) tentang guru

Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya