“Video Tahsin” Sebagai Media Pembelajaran Iqro Untuk Anak Tunarungu.

A. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam kehidupan seseorang, pendidikan mempunyai  peranan yang sangat penting dalam mengembangkan diri dan melangsungkan kehidupannya. Pendidikan merupakan salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasional. Hal ini dikarenakan melalui sektor pendidikan dapat dibentuk manusia yang berkualitas.Pendidikan membantu seseorang menuju kedewasaannya. Sebagaimana diatur dalam undang – undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional atau sisdiknas. Hal tersebut juga sudah diatur dalam undang – undang tentang pendidikan pasal 31 ayat 1 yang menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Hal ini sejalan dengan konsep Al-Quran Surat Al Hajj Ayat 54:

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya : Dan agar orang – orang yang telah memberi ilmu, meyakini bahwasanya Al – Quran itulah yang hak dari Tuhan mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang – orang yang beriman kepada jalan yang lurus.  

Maka semua manusia adalah sama, sama hak nya dalam mendapatkan pendidikan, sama memerlukan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan.   Maka pendidikan juga berhak didapatkan oleh anak berkebutuhan khusus (ABK). Anak berkebutuhan khusus yaitu anak dengan karakteristik berbeda dengan anak pada umumnya yang mengalami kelainan pada mental, emosi, dan fisik. Mendidik anak berkebutuhan khusus memang tidak mudah untuk dilakukan. Perlu adanya tingkat kesabaran yang tinggi, didik kasih yang tinggi, mengerti psikologi anak dengan baik, dan memiliki keterampilan khusus untuk membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak tersebut serta perlu adanya kerjasama dengan orangtua dari anak berkebutuhan  khusus.

Salah satu nya yaitu anak tunarungu, Anak tunarungu merupakan anak yang mempunyai gangguan pada pendengarannya sehingga tidak dapat mendengar bunyi dengan sempurna atau bahkan tidak dapat mendengar sama sekali, tetapi dipercayai bahwa tidak ada satupun manusia yang tidak bisa mendengar sama sekali. Walaupun sangat sedikit, masih ada sisa-sisa pendengaran yang masih bisa dioptimalkan pada anak tunarungu tersebut. Dalam permasalahan yang dihadapi anak tuna rungu yang sudah dijelaskan diatas anak mengalami berbagai macam permasalahan dalam bidang pendidikan, dan bidang komunikasi sosial. Secara kognitif sebagian besar anak tuna rungu tidak mengalami permasalahan dalam hal intelektual atau IQ. Hal ini menunjukkan bahwa anak tuna rungu tidak mengalami hambatan dalam hal intelektual nya. Akan tetapi hambatan itu didasarkan pada kemampuan pemahaman anak dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru. Untuk itu media pembelajaran yang tepat sangat mempengaruhi perkembangan intelektual anak tunarungu.

Anak Tunarungu sama seperti warga negara lainnya juga berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran, anak Tunarungu juga berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya dengan belajar untuk mendapatkan pengetahuan dalam  kehidupannya sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing dalam hal Ilmu pengetahuan maupun Ilmu Agama, namun ternyata sampai saat ini belum ada implementasi-implementasi pembelajaran pendidikan agama Islam di SLB-SLB tersebut. termasuk pengajaran Tahsin dalam mengenalkan huruf hijaiyah kepada anak tuna rungu. Hampir tidak ada buku atau referensi panduan khusus untuk mengajarkan tahsin untuk anak tunarungu.

Gambaran di atas sesuai dengan pernyataan di bawah ini:

“Kita belum memiliki data tentang Implementasi Pendidikan agama Islam di SLB–SLB tersebut, hal ini disebabkan belum tersedianya  guru Pendidikan agama Islam yang memiliki ketrampilan khusus yang siap diterjunkan ke sekolah–sekolah luar biasa, kecuali yang pernah dilakukan oleh Departemen Agama dengan membuka PGA-LB untuk tuna netra yang ditutup tahun 1976, sulitnya mengangkat guru Pendidikan agama Islam  untuk diterjunkan ke sekolah–sekolah luar biasa, dan belum tersedianya buku-buku teks atau pedoman Pendidikan agama Islam  khusus yang diberlakukan bagi sekolah–sekolah luar biasa”. [1]

Pernyataan tersebut telah menggambarkan belum tersedianya tenaga pengajar pendidikan agama Islam untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki ketrampilan khusus yang siap ditempatkan untuk mengajar di sekolah-sekolah luar biasa seperti SLB-A (tuna netra), SLB-B (Tunarungu), SLB-C (tuna grahita), SLB-D (tuna daksa), SLB-E (tuna laras) dan SLB-G (tuna ganda).[2] Pada anak tunanetra sudah ditemukan Al–Qur’an brile, namun pada anak tunarungu belum terdapat lembaga pendidikan Agama yang memperhatikan anak Tunarungu, atau metode belajar membaca Al–Qur’an yang dapat diterapkan pada anak tunarungu, dan sangat sedikitnya pakar–pakar pendidikan Agama yang memperhatikan kondisi keagamaannya.

Dalam fakta permasalahan diatas penulis mencoba memecahkan permasalahan yang dialami anak tuna rungu tersebut dengan meningkatkan kemampuan membaca huruf hijaiyah anak tuna rungu menggunakan media video tahsin sebagai alat penyampaiannya. Selain kemampuan oral yang terasah penulis juga mengharapkan peningkatan kesadaran dan rasa percaya diri membaca Al-Quran bagi anak tuna rungu.  Media video tahsin yang diajarkan menggunakan Metode talaqqi. Metode talaqqi merupakan metode yang selama ini gunakan di Kuttab maupun di TPA, talaqqi secara bahasa adalah saling bertemu atau berhadapan. Adapun secara global, talaqqi yaitu, dimana seorang guru membenarkan bacaan anak secara langsung, baik makharijul huruf maupun sifat huruf, dengan cara saling berhadapan. Media video dipilih karena sebagian besar informasi dan ilmu yang didapat anak tuna rungu melalui indra visual. Dan video tahsin dipilih karena penulis yakin bahwa tuna rungu akan lebih mudah melafadzkan bacaan maghrojil huruf yang benar dengan melihat gerakan bibir, lidah, dengungan hidung hingga tenggorokan.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik mengangkat permasalahan tersebut untuk dilakukan penelitian dengan judul “Video Tahsin” Sebagai Media Pembelajaran Iqro Untuk Anak Tunarungu.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang dikemukakan diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan “Apakah ada pengaruh penggunaan media video tahsin dalam pembelajaran Iqro untuk Anak Tunarungu” ?

  • Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penelitian yang diharapkan sesuai dengan perumusan masalah diatas, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media video tahsin dalam pembelajaran Iqro anak tunarungu.

  • Manfaat Penulisan

Dari berbagai hal yang telah diungkapkan diatas, peneliti diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti yaitu memperoleh pengetahuan tentang media yang efektif dalam pembelajaran Irqo anak tuna rungu serta mendapat pengalaman secara langsung dalam pelaksanaan pembelajaran.

  • Bagi Peneliti lain

Sebagai bahan informasi untuk para peneliti berikutnya yang ingin mengkaji tentang media pembelajaran khususnya media video tahsin.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Anak Tunarungu

Anak tunarungu merupakan anak yang mempunyai gangguan pada pendengarannya sehingga tidak dapat mendengar bunyi dengan sempurna atau bahkan tidak dapat mendengar sama sekali, tetapi dipercayai bahwa tidak ada satupun manusia yang tidak bisa mendengar sama sekali. Walaupun sangat sedikit, masih ada sisa-sisa pendengaran yang masih bisa dioptimalkan pada anak tunarungu tersebut. Berkenaan dengan tunarungu, terutama tentang pengertian tunarungu terdapat beberapa pengertian sesuai dengan pandangan dan kepentingan masing-masing. Menurut Andreas Dwidjosumarto (dalam Sutjihati Somantri, 1996: 74)  mengemukakan bahwa: seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi dua kategori, yaitu tuli (deaf) atau kurang dengar (hard of hearing). Tuli adalah anak yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah anak yang indera pendengarannya mengalami kerusakan, tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).  Istilah tunarungu diambil dari kata “tuna” dan “rungu”, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang dikatakan tunarungu apabila tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara. Apabila dilihat secara fisik, anak tunarungu tidak berbeda dengan anak dengar pada umumnya. Pada saat berkomunikasi barulah diketahui bahwa anak tersebut mengalami ketunarunguan. 

     Berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi, Ashman dan Elkins (1994) mengklasifikasikan ketunarunguan ke dalam empat kategori, yaitu:

  1. Ketunarunguan ringan (mild hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 20-40 dB (desibel). Mereka sering tidak menyadari bahwa sedang diajak bicara, mengalami sedikit kesulitan dalam percakapan.
  2. Ketunarunguan sedang (moderate hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 dB. Mereka mengalami kesulitan dalam percakapan tanpa memperhatikan wajah pembicara, sulit mendengar dari kejauhan atau dalam suasana gaduh, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar (hearing aid).
  3. Ketunarunguan berat (severe hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 65-95 dB. Mereka sedikit memahami percakapan pembicara bila memperhatikan wajah pembicara dengan suara keras, tetapi percakapan normal praktis tidak mungkin dilakukannya, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar.
  4. Ketunarunguan berat sekali (profound hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 95 dB atau lebih keras. Mendengar percakapan normal tidak mungkin baginya, sehingga dia sangat tergantung pada komunikasi visual. Sejauh tertentu, ada yang dapat terbantu dengan alat bantu dengar tertentu dengan kekuatan yang sangat tinggi (superpower).

Beberapa pengertian dan definisi tunarungu di atas merupakan definisi yang termasuk kompleks, sehingga dapat disimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang memiliki gangguan dalam pendengarannya, baik secara keseluruhan ataupun masih memiliki sisa pendengaran. Meskipun anak tunarungu sudah diberikan alat bantu dengar, tetap saja anak tunarungu masih memerlukan pelayanan pendidikan khusus.  

  • Karakteristik Anak Tunarungu

Karakteristik anak tunarungu dari segi fisik tidak memiliki karakteristik yang khas, karena secara fisik anak tunarungu tidak mengalami gangguan yang terlihat. Sebagai dampak ketunarunguannya, anak tunarungu memiliki karakteristik yang khas dari segi yang berbeda. Permanarian Somad dan Tati Hernawati (1995: 35-39) mendeskripsikan karakteristik ketunarunguan dilihat dari segi: intelegensi, bahasa dan bicara, emosi, dan sosial.

  1. Karakteristik dari segi intelegensi

Intelegensi anak tunarungu tidak berbeda dengan anak normal yaitu tinggi, rata-rata dan rendah. Pada umumnya anak tunarungu memiliki intelegensi normal dan rata-rata. Prestasi anak tunarungu seringkali lebih rendah daripada prestasi anak normal karena dipengaruhi oleh kemampuan anak tunarungu dalam mengerti pelajaran yang diverbalkan. Namun untuk pelajaran yang tidak diverbalkan, anak tunarungu memiliki perkembangan yang sama cepatnya dengan anak normal.

  • Karakteristik dari segi bahasa dan bicara

Kemampuan anak tunarungu dalam berbahasa dan berbicara berbeda dengan anak normal pada umumnya karena kemampuan tersebut sangat erat kaitannya dengan kemampuan mendengar. Karena anak tunarungu tidak bisa mendengar bahasa, maka anak tunarungu mengalami hambatan dalam berkomunikasi. Bahasa merupakan alat dan sarana utama seseorang dalam berkomunikasi. Alat komunikasi terdiri dan membaca, menulis dan berbicara, sehingga anak tunarungu akan tertinggal dalam tiga aspek penting ini. Anak tunarungu memerlukan penanganan khusus dan lingkungan berbahasa intensif yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasanya dan kemampuan berbicaranya.

  • Pengertian Tahsin

Tahsin (bahasa Arab: تحسی ن) adalah kata Arab yang berarti memperbaiki, meningkatkan, atau memperkaya. Hal ini juga umumnya digunakan sebagai nama jang diberikan untuk anak-anak laki-laki di dunia Arab dan Islam. Tahsin dalam islam mengandung makna bahwa tuntutan agar dalam membaca Al Quran harus benar dan tepat sesuai dengan contohnya demi terjaganya orisinalitas praktik tilawah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

Tahsin menurut bahasa berasal dari ‘hassana-yuhassinu’ yang artinya membaguskan. Kata ini sering digunakan sebagai sinonim dari kata tajwid yang berasal dari ‘jawwada-yujawwidu’ apabila ditinjau dari segi bahasa. Oleh karena itu, pendefinisian tahsin menurut istilah disamakan dengan pendefinisan tajwid. Dalam Buku Tahsin Tilawah 1 LKP TARQI, penulis menuliskan bahwa definisi tajwid menurut para ulama secara umum sebagai berikut :

Tahsin atau tajwid adalah “mengeluarkan setiap huruf-huruf al Quran dari tempat keluarnya dengan memberikan hak dan mustahaknya.” Atau dengan kata lain menyempurnakan semua hal yang berkaitan dengan kesempurnaan pengucapan huruf-huruf al Quran dari aspek sifat-sifatnya yang senantiasa melekat padanya dan menyempurnakan pengucapan hukum hubungan antara satu huruf dengan yang lainnya seperti idzhar, idgham, ikhfa dan sebagainya.

  • Urgensi Tahsin dalam Membaca Al – Quran
  • Perintah Allah SWT

Eksistensi seseorang dalam keislamannya menuntut yang bersangkutan untuk melaksanakan segala kewajiban yang dibebankan oleh Islam itu sendiri demi kemaslahatan dirinya baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat yang merupakan bagian dari keyakinannya. Dasar semua pelaksanaan perbuatan itu adalah perintah yakni perintah Allah swt yang telah menetapkan Islam sebagai satu-satunya agama yang lurus dan diterima disisi-Nya. Itulah yang disebut dengan ibadah. Agar ibadah tersebut diterima pula di sisi-Nya maka, ibadah tersebut harus dilaksanakan dengan benar sesuai dengan tuntutan dan tuntunan-Nya. Menyempurnakan bacaan al Quran merupakan bagian dari sekian amal bernilai ibadah yang diperitahkan-Nya sebagaimana dalam QS. Al-Muzzammil : 4 dan QS. Al Baqarah : 121.

  • Refleksi Keimanan

Menurut QS. Al Baqarah : 121, pelaksanaan membaca al Quran dengan menerapkan prinsip ‘haqqa tilawah’ yakni membaca dengan sebenar-benar bacaan sebagaimana ketika ia diturunkan merupakan refleksi dari keimanan terhadap Kitab yang diturunkan oleh-Nya. Bahkan jika tidak melaksanakannya maka akan terancam dengan kerugian dan kebinasaan abadi di akhirat nanti. Dengan demikian semangat untuk mempelajari al Quran dan menyempurnakan bacaannya merupakan bukti kejujuran berimanan kepada kitab-Nya.

  • Membiasakan Ketakwaan

Taqwa adalah target penghambaan setiap muslim kepada Rabbnya. Allah swt berfirman dalam QS. Al Baqarah : 21, yang artinya : Wahai manusia sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Alasan setiap muslim untuk mencapai takwa adalah agar menjadi hamba yang diperhatikan oleh Allah swt di akhirat nanti. Salah satu profesi takwa adalah berinteraksi dengan al Quran sebagaimanan diindikasikan melalui QS. Al Baqarah : 2. Ayat tersebut menegaskan tentang korelasi yang sangat kuat antara sifat muttaqin dengan ciri utamanya adalah persahabatan dengan al Quran yang diyakini kebenarannya tanpa ada keraguan sedikitpun.

Tahsin, sebagai aktivitas memperbaiki bacaan alquran mengandung makna bahwa terjadi aktivitas mempelajari dan mengajarkan alquran. hal ini bersesuaian dengan hadits Nabi saw : “sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan alquran”. Seyogyanya tahsin dilaksanakan dengan menghadap guru/ustadz/ustadzah yang kompeten dibidang ilmu Quran. Dan tanpa menunggu sempurna segera diamalkan dan diajarkan kepada orang lain, sebatas materi yang telah betul-betul dikuasai. Hal ini dimaksudkan, agar pembelajar tahsin termasuk dalam kategori sebaik-baik manusia. Allahu a’lamu.

C. PENUTUP

Kesimpulan

Pada Hakekat nya semua manusia adalah sama, sama hak nya dalam mendapatkan pendidikan, sama memerlukan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan. Begitupula anak tunarungu untuk meningkatkan kemampuan agamanya yaitu membaca huruf hijaiyah anak tuna rungu dapat menggunakan media video tahsin sebagai alat penyampaiannya. Selain kemampuan oral yang terasah penulis juga mengharapkan peningkatan kesadaran dan rasa percaya diri membaca Al-Quran bagi anak tuna rungu.  Media video tahsin yang diajarkan menggunakan Metode talaqqi. Metode talaqqi merupakan metode yang selama ini gunakan di Kuttab maupun di TPA, talaqqi secara bahasa adalah saling bertemu atau berhadapan. Adapun secara global, talaqqi yaitu, dimana seorang guru membenarkan bacaan anak secara langsung, baik makharijul huruf maupun sifat huruf, dengan cara saling berhadapan. Media video dipilih karena sebagian besar informasi dan ilmu yang didapat anak tuna rungu melalui indra visual. Dan video tahsin dipilih karena penulis yakin bahwa tuna rungu akan lebih mudah melafadzkan bacaan maghrojil huruf yang benar dengan melihat gerakan bibir, lidah, dengungan hidung hingga tenggorokan.

DAFTAR PUSTAKA

Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2001),  h. 98–99

J.J Hasibuan, Ibrahim, Toenlioe, 1998, Proses Belajar Mengajar (Bandung:Remadja Karya)

Abdul Aziz, 2010, Pedoman Dauroh Al-Quran, (Jakarta: Markaz Al Quran)

Permanarian, Tari Hermawati, 1995, Ortopedagogik Anak Tunarungu, (Bandung:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi)


[1]Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Logos, 2001),  h. 98–99.